IPv4 ‘Sekarat’, IPv6 Jadi Masa Depan Internet

Posted: Februari 15, 2011 in Uncategorized
Tag:, ,


Habisnya IPv4 dianggap sebagai pukulan cukup berat
bagi sebagian besar negara
Asia Pasifik. “Kawasan ini
merupakan wilayah dengan
populasi terbesar di dunia,
dan juga memiliki pertumbuhan ekonomi pesat.
Hampir semua negara sedang
mengembangkan
infrastruktur internetnya
dengan pesat,” tutur Geoff
Huston, Chief Scientist APNIC (Asia Pacific Network
Information Centre) . Ada beberapa kendala yang
akan dihadapi dengan
habisnya freepool IPv4 ini,
yaitu: 1. Di sisi penyedia
infrastruktur dan jaringan,
akan sulit untuk
memberikan alokasi IP
publik ke pelanggan baru.
Terpaksa dilakukan penggunaan IP private,
dengan proses penerjemahan
alamat. Secara umum
memang pelanggan bisa
mengakses internet, namun
ada beberapa aplikasi khusus yang menuntut adanya
koneksi langsung menjadi
tidak bekerja. Membuat ISP
baru akan menjadi hal yang
hampir mustahil dilakukan
bila tidak tersedia alokasi IPv4 yang baru. 2. Di sisi penyedia server,
adanya penambahan IP
publik adalah syarat mutlak
untuk menambahan server.
Server-server konten yang
bertujuan untuk diakses banyak pengunjung dari
internet membutuhkan IP
publik. Tidak tersedianya IP
publik akan secara langsung
menghambat perkembangan
industri konten. Lakukan Sekarang “Bagi penyedia konten,
pemilik jaringan yang besar,
kampus, bank, dan berbagai
institusi yang memiliki
jaringan dan konten internet,
masih ada sedikit waktu untuk segera meminta
alokasi IPv4, sekaligus
langsung menjalankan IPv6,”
jelas Valens Riyadi, Kabid
National Internet Registry
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. Menurut Valens, ada banyak
keuntungan apabila kita
memiliki IPv4 sendiri. Kita
bisa berlangganan ke lebih
dari satu ISP dan melakukan
load balance dan sekaligus fail over untuk beberapa link
upstream tersebut. “Kita juga lebih fleksibel
untuk berpindah ISP, karena
tidak perlu melakukan
pengubahan alamat IP,
karena alamat IP yang kita
gunakan memang dialokasikan secara
permanen ke kita, tidak
tergantung pinjaman IP dari
ISP,” jelas Valens. Untuk penyedia konten
seperti perbankan, memiliki
IP sendiri juga lebih baik dari
sisi keamanan. Jika dilakukan
whois pada alamat IP
tersebut, data yang tercantum adalah identitas
institusi kita sendiri, bukan
ISP tempat berlangganan. Institusi yang ingin
mendapatkan alokasi IPv4,
bisa menghubungi Indonesia
Network Information Center
(IDNIC) di web
http://www.idnic.net atau email hostmaster@idnic.net Migrasi ke IPv6 Di masa depan, IPv6 adalah
jawaban pasti atas masalah
habisnya IPv4 ini. IPv6
menjanjikan jumlah jauh
lebih banyak. Jika IPv4
berjumlah 4,3 miliar IP, IPv6 berjumlah 4 triliun IP.
Sungguh perbedaan jumlah
sangat signifikan. “Selain itu, IPv6 juga
menjanjikan protokol
keamanan yang lebih baik,
karena protokol
keamanannya bersifat
bawaan, tidak seperti IPv4 yang bersifat optional,”
tambah Valens dalam
keterangan yang diterima anissite . Seluruh pihak yang terkait
dengan penggunaan jaringan
dan IP address diharapkan
saat ini juga mulai
melakukan migrasi ke IPv6.
Dalam beberapa waktu mendatang IPv4 dan IPv6
akan berjalan bersamaan
(dual-stack), hingga satu saat
nanti, kita bisa sepenuhnya
menikmati penggunaan IPv6.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s